Pages

#cerpen-jingga


JINGGA



Bukankah kita selalu bersama. Bermain dibawah senja. Membuat siluet berlatar langit jingga dengan suka ria. Saling menatap, lalu tertawa.

***

“Apa kau suka ini?” terlihat lengan seseorang dari balik tubuhku. Menyodorkan sebuah ice cream stroberi tepat didepan mataku. Persis.

“tidak.” Jawabku dingin seraya pergi meninggalkan tempat pengasingan diri. Dibawah pohon linden.

Aku melangkah nyaris berlari kecil dengan tekad, pokoknya jangan sampai bertemu lagi dengannya. Sudah bekali-kali ini terjadi. Ketika aku menikmati kesendirian ditempat pengasinganku, ia selalu hadir. Ada saja yang dibawa. Berkali-kali juga aku menjawab tidak dan pergi. Bahkan aku selalu kabur tanpa melihat wajahnya dan dia pun begitu, selalu muncul dari belakang tanpa menampakan wajah. Ini membuat pikiran ku terganggu. Tapi tak ku ambil pusing. Dan kuputuskan setelah hari itu aku tidak ketempat itu lagi. Yang aku suka, berdiam diri dibawah pohon linden.

Sebulan berlalu. Move on dari pohon linden. Aku mendapat  tempat baru. Sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumah. Belum banyak orang yang berkunjung. Bisa dihitung jari malah. Walaupun belum banyak pohon dan rumput karena masih baru. Tapi cukup aman dan nyaman untuk seorang yang introvert seperti diriku. Taman Bambu. Dengan segera aku mencari posisi yang rindang untuk menghabiskan halaman novelku yang tinggal satu bab. Seketika aku girang tak ketulungan. Aku bagai bertemu sesuatu yang amat kurindukan. Pohon linden ku ternyata ada di taman ini. Aduhai, senang rasanya. Langsung kutaruh tas dan duduk dengan posisi wenak. Aku mulai membaca.

“hai, linden!” seseorang teriak dari jarak yang cukup jauh. Aku mendengarnya, namun tak ku gubris. Cuek. Karena sapaan itu bukan aku.

Aku sibuk berkutat dengan buku novel ku. Menelusuri lebih dalam tiap kata dan kalimat, lembar demi lembar. Sampai akhirnya pundak ku ditepuk.

“Mengapa kau tak menengok saat ku panggil, linden?” sekarang kalimat itu memnyadarkanku bahwa linden yang dia teriaki itu aku.

Aku mengernyitkan dahi, menengok kesumber suara. Aku terkesiap. Oh tuhan! Orang aneh macam apalagi sekarang. Bagaimana tidak terkejut, orang itu memakai pakaian yang aneh. Sebuah kostum ala ala joker. Aku yang kaget refleks mendorong dan memukulnya dengan tas. Sampai-sampai orang aneh itu tak berdaya.

“kau itu siapa sih?!” tanya ku dengan suara tinggi

“uh.. uh...” eluhnya kesakitan

“apa sih orang aneh. Diam disitu dan jangan menguntit lagi!” setelah itu aku bergegas pergi. Namun langkah ku terhenti ketika ia meminta tolong.

“tolong... tolong... jangan pergi. saya ingin bicara dengan mu, linden” dia memohon.

“maaf, saya bukan linden. Mungkin anda salah orang.” Jawabku membelakanginya.

“Tidak, bukankah kita selalu bersama. Bermain dibawah senja. Membuat siluet berlatar langit jingga dengan suka ria. Saling menatap, lalu tertawa?” ucapnya seraya berdiri.

Mendengar kalimatnya barusan aku kaget. Kalimat itu sama persis dengan kalimat yang kuuntai untuk mengenang seseorang yang sangat berarti. Kalimat itu yang sampai sekarang tidak pernah absen mondar mandir di pikiranku, dibenakku.  Tapi mana mungkin. Tidak mungkin orang itu dia. Dia sudah mati.

Buatku yang seorang introvert, dia bagaikan anugerah yang diberi tuhan. Sampai akhirnya yang kuingat tuhan mengambilnya. Aku yakin saat itu dia benar-benar sudah mati.

Sebelum kematianya itu kami bercanda. Setiap sore kami datang ke bukit untuk menyaksikan jingga dilangit Senja. Tepat dijarak satu meter sebelum ujung tebing, ada sebuah batu besar disana. Permukaannya nyaris rata sehingga mudah ditapaki. Kami senang bergiliran naik ke batu itu memperagakan sesuatu ketika jingga tiba untuk memunculkan gambar siluet. Sampai suatu hari, Saking senangnya ia terpeleset jatuh dari batu itu, jatuh kebawah tebing. Tuhan menjadikan aku saksi yang utuh pada peristiwa itu. jadi, Mana mungkin orang yang jatuh dari tebing tidak mati?

Sungguh, pikiran ku sangat kacau. Aku tidak percaya.

“tidak mungkin, kau...” aku yang tidak percaya hal itu lari tergopoh-gopoh. Tanpa sadar air mata ku mengalir deras.

Kau tidak mungkin kembali lagi. Kau sudah mati.

***

Kejadian itu membuatku terbayang sampai tak bisa tidur, Resah. Kaki ku melangkah, meraih foto dalam bingkai di sudut meja. Ada dua orang dalam foto itu. Satu perempuan dan satu laki-laki. Wajahnya cemong sebab riasan tanah merah. Kumal penuh keringat. Saling merangkul dengan seringai tiga jari. Aku terisak.

“kaukah, jingga....” Lama tak berani ku sebut nama mu. Ini pertama kalinya lagi setelah lima tahun kelenyapan mu. Semakin terisak, semakin sesak. 

Keesokan harinya,  sore hari aku kembali ke taman bambu. Aku mengulangi yang kemarin aku lakukan. kali ini berharap orang itu datang kembali. Kupangku gambar dirinya yang kupunya.

“Aku rindu... menggenggam tangan kasar hangat itu. Menatapnya dan tertawa bersama.”

“Taukah kau? Selama ini aku sengaja membuat lelucon agar kau tertawa. Aku sengaja melakukan hal konyol agar kau tersenyum.”

“lesung pipi mu. Karena itulah aku membuatmu tesenyum, tertawa. Aku menyukai saat-saat si lesung  itu hadir bersama senyummu. Meski kata buku yang kubaca lesung pipi adalah sebuah kelainan, tapi aku menyukainya.”

“Kelainan yang mempesona.” Kata ku dalam hati. Ah, Setiap diingat, aku tak berdaya.

Aku mendongak ke atas pohon linden yang rindang. Daunnya hijau muda. Jika diperhatikan, daun linden ini bergerigi dan seperti bentuk hati. Inilah mengapa aku menyukai linden, nyaris berbentuk hati. Gerigi yang mengelilingi bentuk daun itu seperti gambaran hatiku, yang sama sama diselimuti duri. Menyakitkan.

Aku baru sadar sudah tiga jam menunggu. Langit sudah berubah warna. Cerah menjadi redup karena malam akan datang. Sudahlah, kali ini dia tidak datang. Aku mulai berkemas. Ku putuskan untuk pulang saja. Ketika setengah beranjak, kudapati secarik kertas yang terselip di batang pohon. Bukan terselip, tapi sengaja dibuat celah untuk menaruh kertas ini.

“apa ini?” tanyaku.

“siapa gerangan yang berani menyakiti batang pohon lindenku hanya untuk menyelipkan kertas ini? Ck.” Umpatku seraya mengambil kertas itu perlahan. Lalu ku buka. Disana tertulis nama ku.

“nja...” aku bergumam. Itu panggilanku dulu.  Lalu aku membaca isinya. Sedikit terkejut. Ini dari dia. Jadi ucapan yang keluar dari mulutnya tempo hari bukan kebetulan. Dia benar tahu tempat dimana kami bermain dikala sore hari tiba. Bukit.

“Besok. Aku akan ada di sana ketika sore tiba. Menyaksikan  jingga.” Sempurna tertulis dalam kertas itu.

“Aku harus ke bukit, besok.” Umpatku. Buru-buru kulipat surat itu dan kusimpan.

***

Aku harus sampai sana sebelum senja. Harus. Untuk membuktikan benarkah orang itu dia. Rencanaku, sampai sana aku akan mengumpat untuk menyaksikan kedatangannya, dan memperhatikan dari jauh saja. Baiklah.

Dengan mantap kukayuh sepedaku menuju puncak bukit. Sepanjang perjalanan ada bayangan kami dulu, ketika berlomba sepeda sampai puncak. Suara riang gembira antara kami. Berusaha saling menyelak agar bisa berada didepan. Siapa duluan sampai puncak bukit,  dia yang mulai pertunjukan siluet.  Dulu dia yang mencetuskan ide ini. Aku pun menyukai idenya itu. Hingga menjadi permainan seru. Yang kami suka.

“jingga...” desahku sambil mempercepat kayuhan pedal ku.

Kayuhanku terhenti. Dari sini aku mulai melakukan rencanaku tadi. Kusandarkan sepeda pada batang pohon. Mulai dari sini aku akan berjalan. Tidak jauh lagi.

Aku berjalan pelan dengan pandangan was-was. Mengamati sekitar. Memastikan bahwa dia belum tiba. Kucari pohon dengan batang yang lebarnya bisa menutupi tubuh mungilku ini. Dan aku memulainya. Mengintip sesekali. Untung aku pakai baju yang tertutup. Kalau tidak sudah dipastikan aku menjadi satu-satunya pendonor darah disini. Banyak nyamuk.

Detik ke detik. Menit ke menit. Setengah jam berlalu. Satu jam sudah. Ah, dia tak juga datang. Sabar, aku akan menunggu lagi. Kakiku pegal, satu jam aku berdiri bersandar pada pohon ini, akhirnya tubuhku tersungkur. Tak perduli celanaku kotor. Dipikir lagi, baru kali ini aku sendirian ke bukit. Selama ini selalu bersamanya jika hendak ke bukit. Satu tidak ke bukit. Maka dua-duanya tidak ke bukit. Itu kesepakatan kami.

Oke, ini sudah dua jam. Dan jingga sudah datang bersama senja. Aku tak cukup sabar ternyata. Aku beranjak memutar badan dan kearah batu di ujung tebing.

Kuraba batu itu, kotor. Ada beberapa noda tanah merah disana. Mungkin ini bekas pijakan kaki kami. Sudah lima tahun, padahal. Ya, Sandal kami memang tidak pernah bersih. Selalu kotor oleh tanah merah. Mengingatnya membuatku tersenyum simpul. Kusapu dengan telapak tangan permukaan batu tersebut. Lalu duduk diatasnya. Menatap mantap jingga senja. Meski ada awan tipis yang hendak menutupinya, tetap saja jingganya tak terkalahkan. Mempesona.

Kutatap lamat-lamat sebelum kusudahi semua ini. Mungkin dia mempermainkan ku saja. Orang itu bukan dia. Jelas bukan dia. Kini aku semakin yakin.

“Aku tahu, kau bukan jinggaku.” Tegasku pasrah pada senja. Air mataku mengalir lagi. Ini lebih pahit ketimbang kalimat kenangan yang kuuntai.

“Tuhan... dia mempermainkan aku, kan?” benakku. Ini menyakitkan. Sangat. Rasanya tak karuan. Pecah sudah tangisku. Ini tangisan yang cukup lama kusimpan, pantas begini derasnya.

Tanpa sadar aku mencurahkan isi hatiku pada senja. Aku ingin senja tahu, bahwa aku sangat tersiksa. Kepergiannya membuat kebahagiaanku turut pergi bersamanya. Hilang dan berganti luka. Setiap hari. Selama lima tahun.

“Tidak cukupkah selama ini. Aku terluka setiap hari.” Lanjutku.

“karena aku dia mati. Aku terlena oleh kesenangan. Sampai saat itu aku tidak mengingatkannya agar berhati-hati. Aku penyebabnya. Karena aku.” Isakku semakin keras.

“jadi kumohon... beri aku kejelasan tentang semua ini....” Kuseka air mata yang mengalir deras.

“Dia itu siapaaa! Kenapa dia tahu semuanya... kenapa dia tahuuu!” marahku. Baru kali ini aku marah pada senja. Yang biasanya aku selalu tersenyum dan mengucap terima kasih padanya karna senja yang membawa jingga untuk kami bermain. Mungkin aku lelah. Aku, dengan perasaan ini mengungkap rasa yang ku pendam. Menyukai dia. Kuucap semua disini. Pikirku setelah ini tidak akan lagi kemari, maka dari itu kuungkap sekaligus sebagai tanda perpisahan.

“tak bisakah kau hadirkan dia, Tuhan. Aku amat rindu. Aku belum sempat bilang suka padanya. Bukan, bahkan aku mencintainya selama ini. Aku mencintai jingga-ku.” Ungkapku lirih seraya tertunduk lesu. Lima detik kemudian aku bangkit dan berbalik. Melangkah untuk pulang sebelum senja habis berganti malam. Aku kecewa.

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang. Aku tertegun kaerna perkataannya.

“aku juga mencintaimu, nja...” ucap seseorang itu. yang sumber suaranya dari belakangku.

Pasti aku berilusi lagi. Jangan hiraukan, melangkah sajalah. Seperti yang sudah-sudah. Langkah kupercepat. Kini dia memanggil namaku. Bukan, tapi panggilan yang dia beri untukku.

“Senja!!!” teriaknya.

“Senja! Berbaliklah lihat kebelakang.” Pinta suara itu.

Aku yang tak tahan karna semakin jelas suaranya berbalik badan. Aku mematung dan diam. Kudapati siluet tubuh yang tinggi. Siluet itu juga terdiam. Kuhitung sepuluh detik siluet itu tidak bergerak. Benarkan aku berilusi lagi.

“Lihatlah, kau masih sama seperti dulu. Nja. Tidak berubah.” Bahkan siluet itu bisa bicara sekarang. Ini gila. Tapi setelahnya siluet itu melangkah. Aku yang melangkah mundur ditahan olehnya.

“Jangan takut. Tetap disitu. Akan kujawab semua yang ingin kamu ketahui.” Ucapnya seraya melangkah perlahan. Dan dalam setiap langkah ia menjelaskan.

“maaf, aku datang dengan cara yang tidak kau suka. Maaf bahwa aku menguntitmu akhir-akhir ini. Nja.” Lanjutnya. Wajahnya tidak tampak jelas karena disinari jingga senja. Aku penasaran akan wajah dibalik siluet itu. namun aku fokus mendengar penjelasannya.

“Aku sudah lama berada disini. Sejak tadi. Aku bersembunyi dibalik pohon untuk melihat dirimu. Dua jam aku menunggu akhirnya kau datang.” Jelasnya lagi. Lima detik setelahnya kalimatnya terhenti.

Oh, ternyata di amelakukan hal yang sama denganku. Bersembunyi.

“Maaf, aku membuatmu sedih selama lima tahun ini. Meninggalkanmu sendiri. meninggalkan tempat ini. Semuanya. Ketahuilah, aku tidak pergi. Aku selalu disisimu meski dari jarak jauh. Memandangmu. Sampai akhirnya kuberanikan diri menghampirimu yang sedang menyendiri ditempat favoritmu yang baru. Orang yang dari belakang menyodorkan sesuatu itu aku. Dan aku juga yang memakai pakaian joker ketika di taman. Hahaha, aku pula yang memanggilmu linden. Kau tahu?” kini jarak kami lima langkah dekatnya. Aku masih terpaku. Dia melanjutkan kalimatnya.

“Sungguh, maafkan aku. Nja.  Aku juga mencintaimu....” dia bilang mencintaiku juga. Tp aku belum yakin itu dia. Wajahnya belum terlihat jelas.

Dua langkah lagi. Aku merunduk tak berani melihatnya. Yang semakin mendekat.

“Aku masih hidup, Senja.” Mendengar ini aku kaget.

“Aku masih hidup, senja.” Diulangi lagi. Dan saat itu aku mendongak berani untuk menatap wajahnya, sosok yang berada didepanku. Aku terbelalak, aku terkejut. Aku menganga.

“aku mencintaimu, Senja.” Ucapnya sambil menyeringai.

Oh tuhan. Wajah itu kembali. Seringai yang amat kukenal. Tentunya lesung pipi yang tak asing itu.

“Jingga!” pekikku. Sontak kurengkuh tubuhnya. Makin kueratkan untuk meyakini ini nyata. Dan ya dia nyata. Dia balas pelukanku.

“Maafkan aku... Linden.” Ucapannya yang kali ini berhasil membuat lenganku melepasnya. Mungkin dia sesak. Sampai memanggilku linden supaya aku melepasnya. Ah.

“Aku Senja, bukan Linden.” Komentarku dengan wajah jutek.

“kurasa kau akan punya nama baru. Bukan senja lagi. Bagaimana?” dia menggoda.

“Tidak mau. Aku senang nama Senja...” kalimatku terhenti. Menatapnya lama.

“Dan aku menyukaimu, jingga.” Lanjutku melengkapi. Kini aku tersenyum.

“Tapi aku tidak menyukai Senja.” Dia membuatku kaget. Apa apaan pernyatannya barusan. Dia kembali menggodaku. Kutinju perutnya. Dia merintih.

“Aaaw! Hahaha aku bercanda. Bagaimana mungkin aku tidak menyukaimu, senja.” Perkataan yang membuatku lega.

Entah apa semua ini. Yang jelas sekarang aku senang dia nyata dan kembali. Itu berarti kami akan pergi ketempat ini setiap sore seperti dulu. Membuat siluet lagi. Bersuka ria lagi. Kami bersejajar, menoleh dan menatap. Kemudian tersenyum. Senyum berlesung yang kurindu kembali lagi.

Sebelum pergi kami menatap cahaya jingga pada senja yang hampir lenyap. Menatapnya lamat-lamat. Kami buat janji pada jingga senja. Janji ini rahasia, kami umpat dalam diam.

Kali ini aku akan berhati-hati. Agar dia tidak lenyap lagi. Janji Senja.
Aku akan terus bersamanya. Terus berseringai, mengobati lukanya. Janji Jingga.

Kami saling menggenggam.

Cahaya jingga itu keceriaan kami. Senja itu cara kami menciptakan kesenangan.

Jingga milik senja. Aku milik jingga.


RESENSI BUKU "SEKOLAHNYA MANUSIA" MUNIF CHATIB

RESENSI BUKU
SEKOLAHNYA MANUSIA
MUNIF CHATIB




Judul                           : Sekolahnya Manusia

Pengarang                   : Munif Chatib

Penerbit                       : Kaifa

Tahun terbit                 : Mei 2015 (Cetakan I Edisi Baru)

Tebal buku                  : 178  Halaman


Membangun sekolah hakikatnya adalah membangun keunggulan sumber daya manusia. Sayangnya, banyak sekolah yang selama ini sadar atau tidak malah banyak membunuh potensi siswa didiknya. Setelah diteliti, banyak sekali sekolah di negeri ini yang berpredikat SEKOLAH ROBOT, mulai dari proses pembelajaran, target keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilaiannya. SEKOLAH MANUSIA adalah sekolah berbasis MI (multiple intelligences), yaitu sekolah yang menghargai berbagai jenis kecerdasan siswanya.

Buku berjudul “Sekolahnya Manusia” karya seorang pakar pendidikan bernama Munif Chatib ini berisi tips-tips menjadi guru kreatif dan berkualitas. Buku ini merupakan hasil riset yang beliau jalankan dari sekolah ke sekolah. Berawal dari sebuah sekolah yang mendapat image buruk dengan kepercayaan masyarakat yang terus menipis bahkan nyaris diambang “kematian”. Sampai dinas pendidikan setempat berencana menutup sekolah tersebut. Namun, dengan teori multiple intelligences system (MIS) yang dikenalkan oleh Munif Chatib, sekolah itu berubah dan berkembang sehingga bisa hidup kembali. Bukan dari segi bentuk bangunannya saja tetapi isinya juga dirombak.

Bagian I – BUKAN MEREKA YANG BERMASALAH

Pada bab ini Munif Chatib memaparkan bagaimana pengalaman beliau dalam proses pembelajaran ketika seorang guru menemukan sast-saat yang berkesan atau special moment  dalam mengajar. Dari sebuah aktivitas belajar yang mampu merubah kesulitan pemahaman seorang siswa karena beberapa hal, menjadi mudah, sampai akhirnya siswa tersebut bisa memahami dengan baik materi yang disampaikan. Tentu bukan hal yang mudah untuk mendapatkan  special moment. Mungkin setelah melakukan segala cara dan upaya barulah terjadi koneksi anatara murid dengan guru dan materi yang disampaikan. Dengan demikian Munif Chatib yakin bahwa setiap siswa memliki kecerdasan yang berbeda-beda, tidak ada yang bodoh apabila guru mengenali gaya belajarnya. 

Menekankan the best process bukan the best input. Pada contoh sekolah yang telah menerapkan multiple intelligences system (MIS), mereka menganut the best process yakni calon siswa yang mendaftarkan diri lebih awal akan langsung diterima. Tidak peduli apakah siswa tersebut memiliki nilai yang bagus atau jelek. Selama kuota kelas masih tersedia siapapun bisa masuk tanpa melakukan tes seperti yang dilakukan di sekolah pada umumnya. Penerimaan siswa baru (PSB) disekolah yang menerapkan MI menggunakaan alat riset yang disebut sebagai Multiple Intelligences Reseach (MIR), setiap siswa yang mendaftar akan dinyatakan lulus dan hasil dari MIR ini digunakan oleh guru untuk mengetahui gaya belajar masing-masing siswa, dianalisis, lalu dibuat lesson plan (rencana pembelajaran). Dengan demikian guru mengajar dengan cara memasuki dunia siswa, karena gaya mengajar guru adalah gaya belajar siswa.

MIS yang disebut sistem kecerdasan majemuk ini merupakan teori dari Howard Gardner, psikolog dari Harvard University. Metode tersebut mendeteksi gaya belajar siswa, yang memahami apa yang siswa mau, dan memanusiakan manusia.

Bagian II – PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
Ø Redefinisi Kecerdasan, Sebuah Awal yang Manusiawi. Pemahaman definisi dari “kecerdasan” adalah awal dari aplikasi banyak hal yang terkait dalam diri manusia, salah satunya adalah pendidikan. Kesepakatan atas paradigma dan makna tentang kecerdasan selanjutnya dapat menjadi awal penyusunan dan aplikasi sebuah sistem pendidikan.

Ø Teori kecerdasan mengalami puncak perubahan paradigma masyarakat pada tahun 1983 disaat Dr. Howard Gardner mengumumkan perubahan makna kecerdasan dari pemahaman sebelumnya.

Ø Tiga paradigma dasar yang diubah Gardner:
1.    Kecerdasan Tidak Dibatasi Tes Formal
Kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam tes formal. Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis), tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan hanya menilai kecerdasan pada saat itu, bukan untuk satu bulan atau satu tahun bahkan seterusnya. Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang.
2.    Kecerdasan Itu Multidimensi
Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak sisi, bukan hanya kecerdasan berbahasa maupun logika. Menurut analisis penulis, kecerdasan seseorang adalah proses kerja otak seseorang sampai orang itu menemukan kondisi terbaiknya dan kondisi akhir terbaik seseorang tidak terbatas pada satu kondisi saja. Dengan menerapkan multiple intelligences, seseorang dapat menemukan kondisi akhir terbaiknya lebih awal.
3.    Kecerdasan, Proses Discovering Ability
Metode ini meyakini bahwa setiap orang memilki kecerdasan-kecerdasan tertentu yang harus ditemukan melalui pencarian kecerdasan. MIS menyarankan untuk mengembangkan kemampuan atau kelebihan anak dan mengubur kelemahan/ketidakmampuannya.

 Ø Hambatan/tantangan dalam aplikasi MI di dunia pendidikan Indonesia:

1. Beberapa elemen sistem pendidikan Indonesia kurang sejalan dengan “sistem pendidikan yang proposional (manusiawi dan seimbang)” yang secara teoritis terdapat pada alur input (penerimaan siswa), process (proses KBM) dan output (assessment).
2.  Pemahaman yang salah tentang makna sekolah unggul di Indonesia. Indikator kebanyakan sekolah unggul sekarang ini dititikberatkan pada the best input (menyeleksi siswa baru dengan ketat, menerima yang pandai saja).
3.    Desain kurikulum yang masih sentralistis
4.    Penerapan kurikulum yang tidak sejalan dengan evaluasi hasil akhir pendiidkan
5.   Proses belajar yang menggunakan kreativitas tingkat tinggi. Permasalahan: rendahnya kemampuan guru mengajar dengan kreativitas yang baru dan menarik.Masih belum menggunakan penilaian autentik.

Bagian III - SOLUSI PENDIDIKAN DI NDONESIA: MULTIPLE INTELLIGENCES

A.  Indikator Sekolah Unggul, “The Best Input” atau “The Best Process”

Hampir setiap tahun pada masa penerimaan siswa baru setiap orang tua mengincar sekolah favorit dengan mendaftarkan anaknya dan mengikuti seleksi yang diadakan di sekolah tersebut. Sekolah hanya menerima 350 siswa, padahal yang mendaftar dan mengikuti tes lebih dari 1.000 orang. Bisa dibayangkan bagaimana ketatnya proses seleksi di sekolah tersebut. Bagi anak yang lolos seleksi mungkin orang tua menganggap anaknya pintar. Tapi bagaimana untuk anak yang tidak lolos seleksi disekolah faforit tersebut? Banyak orang tua yang setelahnya menilai bahwa anaknya “bodoh” hanya karena tidak diterima di sekolah favorit.  Pertanyaannya, benarkah sekolah unggul adalah sekolah yang mengutamakan kualitas input siswanya?

Ø Pada dasarnya, sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya.

Ø Kualitas proses pembelajaran bergantung pada kualitas para guru yang bekerja di sekolah tersebut. Apabila kualitas guru di sekolah tersebut baik, mereka akan berperan sebagai “agen pengubah” siswanya.

Ø Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik, bagaimanapun kualaitas akademis dan moral yang mereka miliki. Dengan kata lain, sekolah yang guru-gurunya mampu mengubah kualitas siswanya dari bodoh dan nakal menjadi positif, itulah sekolah unggul.

Ø resiko bagi pengurus sekolah yang berani mengklaim sekolahnya adalah sekolah unggul. Mereka harus dengan senang hati menerima semua siswa apa adanya, tanpa pandang bulu, dan tanpa memilih siswa dengan tes seleksi. Ini karena prinsip seklah tersebut: tidak ada siswa yang bodoh.

Ø Sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia, dalam arti menghargai tiap potensi yang ada pada diri siswa. Sekolah yang membuka pintu untuk semua siswa, bukan seleksi tes-tes formal yang memiliki nilai interval berupa aangka untuk menyatakan batasan diterima atau tidak.

Ø Pemerataan sekolah unggul di setiap daerah  akan lebih cepat terwujud apabila tidak ada tes seleksi yang bersifst kognitif untuk menentukan seorang siswa diterima atau ditolak masuk sekolah yang diinginkannya. Setiap sekolah harus berani menjadi sekolah manusia, sekolah yang terbuka untuk menerima siswa dengan kondisi apapun.

B.  MIR Dan Gaya Belajar Anak

Banyaknya kegagalan siswa mencerna informasi dari gurunya disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Gaya mengajar adalah strategi transfer informasi yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Gaya belajar adalah bagimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswa. Gaya belajar tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki siswa tersebut. Salah satu asas Quantum Learning (Bobbi DePorter): Setelah guru memahami gaya belajar siswa, setiap guru akan masuk ke dunia siswa sehingga siswa dapat merasa nyaman dan tidak menghadapi resiko kegagalan dalam proses belajarnya.


C. MIR Dan Bakat Anak

Ø Potensi bakat harus dipicu.
Ø MIR merupakan alat hasil riset yang dapat membantu orangtua menemukan bakat terpendam anakanya.
Ø Fungsi penting hasil MIR
·     Sebagai data informasi tentang kondisi psikolgis kecerdasan anak
·  Sebagai anjuran kepada orangtua untuk melakukan berbagai aktivitas kebiasaan atau kegiatan krwatif yang disarankan untuk diterapkan kepada anaknya guna “memancing” bakat anak tersebut.


Bagian IV – STRATEGI PEMBELAJARAN MI (MULTIPLE INTELLIGENCES)

A.  MI Bukan Bidang Studi

Ø Kesalahpahaman ini dimungkinkan karena kemiripan istilah anatara jenis kecerdasan yang dimunculkan oleh Howard Gardner dan nama bidang studi. Seperti kecerdasan matematis-logis disamakan dengan bidang studi matematika, kecerdasan linguistik dianggap bidang studi bahasa Indonesia.
Ø MI merupakan strategi pembelajaran untuk materi apapun dalam semua bidang studi.
Ø Strategi pembelajaran ini adalah bagaiman guru pengemas gaya mengajarnya agar mudah ditangkap dan dimengerti oleh siswanya.

B. MI Bukan Kurikulum

Ø MI bukan kurikulum, melainkan strategi pembelajaran berupa rangkaian aktivitas belajar yang merujuk pada indikator hasil belajar yang sudah ditentukan oleh silabus.

Ø MI sulit diterapkan pada dunia pendidikan yang mengacu pada kurikulum berbasis materi. Kurikulum berbasis materi hanya melihat dan menilai keberhasilan siswa dengan melihat sedikit banyaknya pengetahuan dan hafalan bidang studi.

Ø MI cocok bila diterapkan dalam kurikulum berbasis kompetensi dan komprehensif.

Ø Kurikulum yang komprehensif adalah kurikulum yang mendidik siswa dalam ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif.

Ø Sebaik apapun kurikulumnya, sulit berhasil apabila tidak dijalankan dengan strategi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan siswa-siswa.

C. Penyakit DISTEACHIA

Penyakit yang diderita oleh guru, yaitu penyakit “salah mengajar”
(Thomas Armstrong, Ph.D,.)
Ada 3 Virus:
1.      Teacher Talking Time

      Anggapan bahwa guru mengajar dan siswa belajar ada dalam satu proses. Guru yang menghabiskan waktu 80% dengan berceramah meyakini bahwa materi yang disampaikan saat itu didengar dan diperhatikan siswanya. Padahal, kenyataan menunjukan sebaliknya. Siswa kebanyakan tidur, berbincang dengan temannya dan melamun. Dan parahnya guru merasa cukup untuk memnuhi tugas dan kewajiban mengajar.

2.   Task Analysis 

      Guru biasanya langsung masuk ke penyampaian materi tanpa menjelaskan kegunaan materi dalam kehdupan sehari-hari. Global analysis juga harus diberikan kepada siswa agar mereka dapat mendapatkan gambaran seperti apa materi yang akan diajarkan, Dengan begitu setelah diberikan materi yang sudah dikembangkan/dipecah-pecah, siswa tidak akan bingung karena sudah mempunyai gambaran dari inti materi yang dipelajari. (Global analysis: Ibarat Puzzle yang utuh, Task analysis: puzzle yang sudah dipecah-pecah)

3.  Tracking

       Apa itu Tracking? Tracking adalah pengelompokan siswa ke dalam beberapa kelas berdasarkan kemampuan kognitifnya. Output tracking adalah pembagian kelas menjadi kelas untuk anak pintar dan kelas untuk anak bodoh. Contoh: konsep kelas akselerasi.

    Menurut Thomas Armstrong, perkembangan psikologi dan kompetensi seorang siswa pandai yang masuk dalam kelas khusus anak pandai mempunyai risiko kemunduran tingkat kecerdasan. Hal ini terjadi karena adanya kompetisi yang menimbulkan ketegangan, apabila seorang siswa tertinggal sedikit saja dari temannya ia akan langsung merasa frustasi dan murung. Itu sangat berisiko buruk bagi perkembangan psikologis pendidikan anak tersebut.


D.  Strategi Pembelajaran MI

Ø Pelaksanaan strategi ini akan menjadi lebih mudah jikah langkah pertama fokus pada model aktivitas pembelajaran dahulu, baru setelah itu dilakukan analisa terhadap aktivitas tersebut berkaitan dengan kecerdasan apa saja. Bukan fokus kepada kecerdasan tertentu baru menguraikan aktivitas-aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan kecerdasan tersebut dan tidak menyentuh kecerdasan lain.

Ø Beberapa contoh strategi pembelajaran dengan MI: menulis puisi tentang materi pelajaran (kecerdasan linguistic, intrapersonal, interpersonal dan kinestetis), Teater Aristoteles (ajang mengeluarkan pendapat dan ajang unjuk bakat siswa), movie learning, be a discoverer, dll.

Ø Ketika guru fokus untuk model aktivitas yang kreatif dan inovatif, proses pembelajaran akan menarik minat siswa untuk belajar dengan antusias dan menikmati proses pembelajaran.

Ø Aplikasi langsung dari materi pembelajaran secara otomatis akan masuk dalam memori jangka panjang dan tidak akan terlupakan seumur hidup.

E.  Merancang Strategi Pembelajaran

1.  Menggunakan 30% waktu guru untuk menyampaikan materi, dan 70% digunakan untuk siswa beraktivitas.
2.  Gunakan modalitas belajar yang tertinggi, yaitu dengan modalitas kinestetis dan visual dengan akses informasi melihat, mengucapkan dan melakukan.
3. Mengaitkan materi yang diajarkan dengan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari yang mengandung keselamatan hidup.
4. Menyampaikan materi kepada siswa dengan melibatkan emosinya untuk menghindari kehambaran dan kebosanan.
5. Melibatkan partisipasi siswa untuk menghasilkan manfaat yang nyata dan dapat langsung dirasakan oleh orang lain.

F.  Menjadi Guru Profesional

    1.    Bersedia untuk selalu belajar
2.    Secara teratur membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar
3.    Bersedia diobservasi
4.    Selalu tertantang untuk meningkatkan kreativitas
5.    Memiliki karakter yang baik

Bagian V – PENILAIAN AUTENTIK

A.  Model Penilaian

    1.      Penilaian Standar

        Ø Penilaian tradisional Menitikberatkan pada penilaian pengetahuan
Ø Penilaian hanya pada akhir periode pembelajaran (contoh:ulangan harian dijadikan alat untuk melihat ketuntasan belajar siswa)
Ø Soal tes yang memiliki konten abstrak (tidak diberi contoh nyata/konkret)
Ø Jenis penilaian: Tes
Ø Hanya menggunakan benar/salahnya jawaban siswa sebagai instrument penilaian
Ø Mendorong adanya kompetisi (ranking)
Ø Mengesampingkan yang lemah

2.    Penilaian Autentik

        Ø Mengukur 3 aspek kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap)
Ø Guru juga mengambil nilai pada proses pembelajaran. Tidak hanya di akhir saja
Ø Soal tes sudah konkret (contoh: soal cerita dalam matematika)
Ø Menggunakan berbagai jenis penilaian
Ø Instrumen penilaian: skoring dan observasi
Ø Penilaian
Ø cenderung membangun semangat Membantu siswa yang lemah

B.  Ability Test, Bukan Disabillity Test

Penilaian autentik menganut konsep Ability Test, yaitu tes kemampuan, bukan Disabillity Test atau tes ketidakmampuan. Artinya doal-soal yang diberikan merupakan soal yang sudah dipelajari sebelumnya, bukan soal-soal yang belum didapat dari proses belajar.

C.  Discovering Ability

    Discovering ability: guru meminta siswa menjawab soal yang sama dengan cara yang lain, apabila gagal baru dilakukan remedial.

D.  Taksonomi bloom

membantu guru membuat soal berkualitas
Ø Pengetahuan (ingatan dari materi yang sudah dipelajari, contoh soal: siapakah ...? Dimana letak….?)
Ø Pengertian (arti suatu materi, contoh soal: Apakah yang dimaksud dengan…?)
Ø Aplikasi (Menerapkan materi, contoh soal: jelaskan langkah-langkah untuk…? )
Ø Analisis (memecahkan/menguraikan suatu materi, contoh soal: apa hubungan antara…dan…?)
Ø Sintesis (menyatukan bagian-bagian, contoh soal: buatlah sebua lagu mengenai…?)
Ø Evaluasi (menentukan nilai suatu materi, contoh soal: apa pendapatmu mengenai…?)

E.  Konsep Ipsative

Perkembangan siswa diukur dari perkembangan sebelum dan sesudah siswa mendapatkan materi pembelajaran. Perkembangan siswa satu tidak boleh dibandingkan dengan siswa lain.

F. Penilaian yang dilakukan oleh guru harus memuat keseimbangan Tiga Ranah:

Ø Aspek Kognitif
Ø Aspek Afektif
Ø Aspek psikomotorik


Dengan buku sekolahnya manusia karya Munif Chatib ini, dapat menjadikan para guru (khususnya di Indonesia) lebih kreatif dan mempunyai motivasi untuk mengajar dengan cara yang baik, guru yang mengikuti gaya belajar siswa, bukan siswa yang mengikuti gaya belajar guru. Sehingga setiap siswa mendapatkan hak untuk belajar dan memahami materi yang disampaikan oleh guru dengan baik. Buku ini juga bermanfaat untuk pengurus sekolah yang ingin menerapkan sistem pembelajaran agar menjadi lebih baik. Sehingga tidak ada lagi sekolah robot, melainkan sekolahnya manusia, yang memanusiakan manusia, dan mengakui bahwa setiap anak memiliki potensi dengan kecerdasan yang berbeda.